Suara Balige,- Isu SARA Yang Menjadi Viral Di Sosial Media Adalah Hoax. PILGUB DKI Jakarta sekarang ini sangat mengadung Suku,Agama,Ras dan Antargolongan (SARA). Bahkan banyak pihak yang terhanyut akan isu SARA ini sehingga membuat kegaduhan di Republik Indonesia tercinta ini.. Sangat di sayangkan memang pesta demokrasi yang seharusnya kita gunakan untuk mencari pemimpin yang mau membangun Jakarta namun di salah gunakan oleh banyak pihak yang tidak bertanggung jawab untuk merusak hati nurani rakyat untuk memilih pemimpin yang benar - benar mau membangun Jakarta.
Beberapa hari lalu saya menemukan pernyataan Gubernur Papua Lukas Enembe menyebar luas di social media yang menyatakan bahwa “Kalau Non muslim tidak boleh jadi Gubenur DKI atau Presiden Indonesia maka biarkan Papua Melanesia Merdeka”. Namun setelah saya telusuri pernyataan ini ternyata pernyataan ini adalah HOAX ( berita bohong). Saya mendapat klarifikasi resminya dari website http://gubernurlukasenembe.com . Beliau menyatakan bahwa “Saya perlu menyampaikan kepada seluruh masyrakat Indonesia, khususnya masyarakat DKI dan masyarakat Papua bahwa saya sama sekali tidak pernah memberikan pernyataan berkaitan dengan Pilkada DKI, apalagi dihubung hubungkan dengan keinginan agar Papua jika Ahok tidak diijinkan jadi Gubernur”. Hal ini di sampaikan Gubernur Papua saat mendampingi Bapak Presiden Republik Indonesia Joko Wiododo dalam kunjungannya ke Provinsi Papua 17 Oktober 2016 lalu.
Bahkan Gubernur Papua mempertegas ucapan nya dengan pernyataan “ Sudah berkali – kali saya nyatakan bahwa NKRI harga mati bagi kami di Papua, jadi jangan merusak tatanan yang sudah kami bangun dengan baik di tanah kami. Kami tidak berpikir untuk merdeka tapi saat ini kami hanya focus pada bagaimana cara mensejahterahkan rakyat yang hidup di tanah atas tanah ini”. Tegas Enembe.
Gubernur Lukas Enembe juga menyatakan bahwa “Saya tidak punya waktu untuk mengurusi soal Provinsi lain, apalagi soal DKI yang tentunya punya karakter permasalahan yang jauh berbeda dengan Papua. Saya hanya ingin focus bagaimana caranya membangun Papua menjadi lebih baik. Makanya saya tidak akan berhenti berjuang untuk melakukan perubahan terhadap Undang-undang No 21 tahun 2001, karena kunci menuju kesejahteraan rakyat papua adalah dengan melakukan perubahan Undang-undang tersebut”
Selanjutnya Gubernur Papua menyatakan bahwa rakyat Papua sangat senang dan gembira pemerintahan yang di pimpin oleh Bapak Presiden Jokowi Widodo sangat focus dalam pembangunan Papua. Sudah berkali kali Pak Jokowi berkunjung ke Papua dan ini menunjukkan bahwa beliau sangat ingin pembangunan Papua dapat berjalan dengan cepat , sambung Lukas Enembe.
Di penutup klarifikasinya Lukas Enembe menyatakan “ Jadi sekali lagi saya tegaskan bahwa saya, Lukas Enembe, Gubernur Provinsi Papua tidak pernah sama sekali memberikan pernyataan seperti yang berkembang saat iniberkaitan dengan Pilkada DKI. Ini kerjaan orang – orang yang tidak senang dengan apa yang telah kami capai dan Papua dan mencoba memecah belah kami dengan saudara – saudara kami yang lain di tanah air Indonesia yang sangat kami cintai “. Tutup Enembe.
Himbauan kami dari Suara Balige bagi saudara yang mendapat ISU SARA mengenai Pilgub DKI Jakarta sebaiknya di abaikan saja hal demikian karena hal itu digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan bisa kita katakan mereka mau memecah berlah kerukunan antar umat beragama dan tidak ingin Indonesia ini lebih baik ke depannya. Terima Kasih.
Beberapa hari lalu saya menemukan pernyataan Gubernur Papua Lukas Enembe menyebar luas di social media yang menyatakan bahwa “Kalau Non muslim tidak boleh jadi Gubenur DKI atau Presiden Indonesia maka biarkan Papua Melanesia Merdeka”. Namun setelah saya telusuri pernyataan ini ternyata pernyataan ini adalah HOAX ( berita bohong). Saya mendapat klarifikasi resminya dari website http://gubernurlukasenembe.com . Beliau menyatakan bahwa “Saya perlu menyampaikan kepada seluruh masyrakat Indonesia, khususnya masyarakat DKI dan masyarakat Papua bahwa saya sama sekali tidak pernah memberikan pernyataan berkaitan dengan Pilkada DKI, apalagi dihubung hubungkan dengan keinginan agar Papua jika Ahok tidak diijinkan jadi Gubernur”. Hal ini di sampaikan Gubernur Papua saat mendampingi Bapak Presiden Republik Indonesia Joko Wiododo dalam kunjungannya ke Provinsi Papua 17 Oktober 2016 lalu.
Bahkan Gubernur Papua mempertegas ucapan nya dengan pernyataan “ Sudah berkali – kali saya nyatakan bahwa NKRI harga mati bagi kami di Papua, jadi jangan merusak tatanan yang sudah kami bangun dengan baik di tanah kami. Kami tidak berpikir untuk merdeka tapi saat ini kami hanya focus pada bagaimana cara mensejahterahkan rakyat yang hidup di tanah atas tanah ini”. Tegas Enembe.
Gubernur Lukas Enembe juga menyatakan bahwa “Saya tidak punya waktu untuk mengurusi soal Provinsi lain, apalagi soal DKI yang tentunya punya karakter permasalahan yang jauh berbeda dengan Papua. Saya hanya ingin focus bagaimana caranya membangun Papua menjadi lebih baik. Makanya saya tidak akan berhenti berjuang untuk melakukan perubahan terhadap Undang-undang No 21 tahun 2001, karena kunci menuju kesejahteraan rakyat papua adalah dengan melakukan perubahan Undang-undang tersebut”
Selanjutnya Gubernur Papua menyatakan bahwa rakyat Papua sangat senang dan gembira pemerintahan yang di pimpin oleh Bapak Presiden Jokowi Widodo sangat focus dalam pembangunan Papua. Sudah berkali kali Pak Jokowi berkunjung ke Papua dan ini menunjukkan bahwa beliau sangat ingin pembangunan Papua dapat berjalan dengan cepat , sambung Lukas Enembe.
Di penutup klarifikasinya Lukas Enembe menyatakan “ Jadi sekali lagi saya tegaskan bahwa saya, Lukas Enembe, Gubernur Provinsi Papua tidak pernah sama sekali memberikan pernyataan seperti yang berkembang saat iniberkaitan dengan Pilkada DKI. Ini kerjaan orang – orang yang tidak senang dengan apa yang telah kami capai dan Papua dan mencoba memecah belah kami dengan saudara – saudara kami yang lain di tanah air Indonesia yang sangat kami cintai “. Tutup Enembe.
Himbauan kami dari Suara Balige bagi saudara yang mendapat ISU SARA mengenai Pilgub DKI Jakarta sebaiknya di abaikan saja hal demikian karena hal itu digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan bisa kita katakan mereka mau memecah berlah kerukunan antar umat beragama dan tidak ingin Indonesia ini lebih baik ke depannya. Terima Kasih.
